SEPENGGAL KISAH DI UNTIRTA: PENGABDIAN LSP

Sepenggal Kisah di UNTIRTA : Pengabdian LSP

Sebenernya, agak throwback sih saat gw nulis blog ini. Karena cerita pengabdian LSP ini pas gw semester 2 (saat ini gw semester 4). Ya kurang lebih setahun yang lalu. Mungkin saat kalian baca blog ini, kalian bingung “apa sih LSP?” , “Pengabdian KKM tuh?” or anything else. So pertama, gw bakal ngejelasin dulu apa sih LSP itu. Jadi.. LSP yaitu kepanjangan dari Lingkar Studi Pekanan. Ini termasuk ke dalam mata kuliah universitas yaitu mata kuliah Agama Islam. LSP dan Matkul Agama Cuma ada di semester 1 dan 2 aja. Ada perbedaanya ga? Ada dong~

Perbedaannya, yaitu yang membimbing dan tempat nya. Jika matkul agama dibimbing oleh dosen dan tempat belajarnya yaitu ya di gedung perkuliahan, kalau LSP ini dibimbing oleh mentor dan tempat belajarnya yaitu diluar gedung perkuliahan dan diluar jam mata kuliah matkul agama itu sendiri. Nanti tiap jurusan dibagi perkelompok gitu.

Pas tahun ajaran gw (2015-2016), kegiatannya ini dibedakan tiap semesternya. Semester 1 kegiatan yang dilakukan itu hafalan surat2 al-quran, mengaji, dan ada kultumnya juga, kegiatannya dilakukan per kelompok dan jadwalnya pun terserah kebijakan kelompok masing2, tempatnya biasanya sih d masjid kampus. Pada saat masuk semester 2, LSP ini kelompoknya beda dengan semester 1. Jika semester 1 kelompoknya dipisah antara cewek dan cowok, kalo semester 2 dicampur cewek dan cowok. Kegiatannya yaitu mengabdi di suatu tempat. Untuk lokasi tempat dan apa aja kegiatan yang akan dilakukan tergantung kelompok masing2 juga.

Dan disini gw bakal cerita tentang pengabdian gw dan kawan2 kelompok gw hehe

Sehabis kita muter2 cari-cari tempat, rebutan tempat juga sama kelompok lain wkwk (iyalah satu angkatan univ cuy harus beda tempat), dan survey yang akan kita jadikan tempat melaksanakan pengabdian, akhirnya kita menemukan tempat (yang bisa dibilang cocok) #yeay. Yaitu di wilayah Ciceri, Kota Serang. Sebenernya sih bebas mau tempat dimanapun juga, ke Papua juga boleh~. Tapi melihat kondisi waktu, budget, serta laporan yang harus disetor sebelum UAS maka kita menentukan untuk cari tempat yang deket kampus. Yah padahal sih ujung2nya agak jauh juga, karena yang deket udah diambil sama kelompok lain.

Madrasah Diniyah Awaliyah Qurrota A’ayun.

Sebelum gw cerita tentang pengabdiannya, gw mau deskripsiin dulu tentang MDA ini. Walaupun letaknya “di kota Serang”, tapi MDA ini letaknya terpencil dan ironis juga sih. Letaknya di perkampungan belakang perumahan elit gitu. Pertamanya gw kira MDA ini adalah SD berbasis Islam seperti dikebanyakan daerah, tapi ternyata kalo disini bukan sekolah formal seperti SD melainkan nama lainnya TPA/TPQ atau orang biasanya bilang “sekolah sore”. Hmm beda tempat beda sebutan hehe. Jadi setiap sore anak2 di wilayah ini belajar mengaji dan belajar agama disini.Sekolah ini didirikan sama seorang Ibu2 (gw lupa namanya :D) dengan ikhlas tanpa menginginkan suatu imbalan/bayaran apapun, harapannya agar anak2 disekitar rumahnya bisa lebih memahami ajaran Islam. Letak madrasahnya juga persis dibelakang rumah Ibu madrasahnya. Untuk belajar di madrasah ini, murid-murid tidak perlu membayar iuran alias gratis. Karena rata2 orang tua murid hanya bekerja serabutan. Ada yang bekerja sbg tukang becak, pemulung, pedangan asongan. Murid disini juga jumlahnya ga banyak, hanya sekitar 20an anak aja. Dan itu pun mereka ga full segitu tiap harinya. Karena mereka ada yang lebih main sama temen2nya, ketimbang sekolah sore.

Kita menjadwalkan untuk melaksanakan kegiatan pada sore hari setelah selesai kuliah (sekitar jam 4 – 6 sore), karena memang jam sekolah dimulai pada ba’da ashar sampai maghrib.

26 April : Hari ini harusnya kita mulai pembukaan acara, namun karena ada mata kuliah pengganti sampe sore banget. Akhirnya kita reschedule pada keesokan harinya.

27 April : Sebelum mulai acara, kita sempet ngobrol2 dulu sama Ibu yang punya madrasahnya. Katanya kemaren anak2 disana udah kumpul semua dan antusias banget karena dikasih tau ada kakak2 yang mau dateng, tapi ternyata mereka nunggu sampe magrib malah ga dateng. Mereka agak kecewa gitu katanya. Sedih juga sih, kita jadi feeling guilty gtu jadinya. Kita juga sempet kenalan sama dua orang guru sukarela disini, mereka baik banget hehe. Daaan impactnya dari batalnya acara pembukaan kita kemarin adalah… hari ini ga semuanya hadir (karena kecewa gitu kayaknya kita ga bakalan dateng lagi).

Pengabdian (lebih tepatnya jadi guru dadakan) dimulai..

Karena dilihat dari murid2nya yang dibawah umur 10 tahun, jadi kita mencoba menciptakan pengajaran yang seasik mungkin dari biasanya guru mereka ajarkan. Kita coba pakai media, agar lebih menarik.

Dan berhasil. Kita ajarin gimana doa2 sehari, adab2, menonton film kisah nabi, mengaji, belajar bahasa inggris tapi dengan cara yang menarik. Sampe belajar gunting kuku sama cuci tangan.

Tantangannya adalah, listrik yang terbatas dan ya namanya anak kecil agak susah diatur wkwk. Lebih gampang ngatur orang dewasa ketimbang anak kecil, serius deh.

Kadang kalo kita lagi ngajarin, mereka ada aja yang sibuk sama kegiatan sendiri, terus tiba2 ada yang berantem sama temennya gara2 rebutan pensil, ada yang bandel banget, ada yang belum bisa nulis, ada yang nanyanya “nyeleneh”, ada yang maenin ingus sampe dilapin dibaju gw #hiks, ada yang nurut banget, apalagi pas belajar bahasa inggris. Mereka bahkan belum bisa nyebut angka 1 – 10 pake bahasa inggris. Ya macem2 deh wkwk, tapi ya untungnya emang gw suka anak kecil jadi ya seru2 aja.

4 Mei 2016

Penutupan..

Di acara penutupan, kita berterimakasih sama keluarga Qurrata A’ayun, dan mohon maklum kalau kita gabisa bantu banyak. Foto2 bareng. Kita juga kasih hadiah ke murid2nya biar lebih semangat belajar. Oiah kita juga kasih award ke anak yang lebih rajin. Duh gw lupa namanya siapa ya haha. Tapi emang nih anak kecil2 cabe rawit sih. Pinter banget ketimbang temen2nya.

Mungkin itu aja yang bisa gw ceritain. Dari pengabdian LSP ini, gw ngeliat langsung kalo ga semua yang di kota itu emang hidupnya “wow” ditambah lagi lokasi madrasah ini di pinggiran komplek yang rata2 rumahnya elit. Dan yang lebih salutnya lagi masih ada contoh nyata orang yang peduli dan sukarela terhadap lingkungan dan sesamanya. Ibu yang punya madrasah, dan dua guru sukarela yang ngajar tiap sore di madrasah ini tanpa digaji sepeser pun. Pas gw tanya : “a, teh kok mau ngajar disini kan ga dibayar?” dan mereka jawabnya “Ini mah saya itung2 nabung buat di akherat aja hehe, biar Allah aja yang membalasnya”.

Dan yang pasti lewat pengabdian ini kita menjadi lebih bersyukur tentang apapun yang kita udah dapat.

Terimakasih keluarga Madrasah Diniyah Awaliyah Qurrota A’ayun.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s